Sinonimi

|0 komentar


Bahasa merupakan sistem komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa senantiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan pelbagai pendekatan untuk mengkajinya. Antara lain pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Semantik merupakan salah satu bidang linguistik yang mempelajari tentang makna.

Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).

Sedangkan menurut Katz (1971: 3) semantik adalah studi tentang makna bahasa. Sementara itu semantik menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan jugadengan struktur makna suatu wicara. Secara singkat, semantik ini mengkaji tata makna secara formal (bentuk) yang tidak dikaitkan dengan konteks.

Bahasa merupakan sarana perpikiran manusia secara empiris. Kaitan antara perpikiran dan perbahasaan atau berbahasa dan berpikir sangat erat atau sama sekali tidak dapat dilepaskan (Parera,2004: 60-61).

Dalam suatu bahasa, makna kata saling berhubungan. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainya dengan kata atau satuan bahasa lainya lagi (Chaer, 2009: 83). Dalam makalah ini akan dibicarakan mengenai hubungan atau relasi makna yang menyangkut hal kesamaan makna (sinonimi) dengan tujuan dapat mendiskripsikan hubungan relasi makna dalam hal kesamaan makna (sinonimi).

Berdasarkan uraian singkat dari latar belakang diatas, bentuk permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.    Apa pengertian sinonimi?
2.    Mengapa muncul sinonimi?
3.    Apa faktor penyebab ketidakmungkinan menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim?
4.    Adakah perbedaan antara makna yang bersinonimi?

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.    Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah semantik
2.    Untuk mengetahui apa itu sinonimi
3.    Untuk mengetahui mengapa muncul sinonim
4.    Untuk mengetahui faktor penyebab ketidakmungkinan menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim
5.    Untuk mengetahui perbedaan antara makna yang bersinonim

Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini adalah menambah pengetahuan tentang kesamaan makna.

1.     Pengertian Sinonimi

Istilah sinonimi (Inggris: synonomy berasal dari bahasa Yunani Kuno ; onoma: nama dan syn: dengan). Makna harfiahnya adalah nama lain untuk benda yang sama. Untuk mendefinisikan sinonim, ada tiga batasan yang dapat di kemukakan. Batasan atau definisi itu ialah: 1. Kata-kata dengan acuan ekstra linguistik yang sama, misalnya kata mati dan mampus; 2. Kata-kata yang mengandung makna yang sama, misalnya kata memberitahukan dan kata menyampaikan; 3. Kata-kata yang dapat disubtitusikan dalam konteks yang sama misalnya “kami berusaha agar pasien dapat segera pulih.”, “kami berupaya agar pasien dapat segera pulih.” Kata berupaya bersinonim dengan kata berusaha (Pateda, 2010: 222-223). Sering dikatakan bahwa kata-kata yang sinonim memiliki makna yang “sama”, dengan hanya bentuk-bentuk yang berbeda (Verhaar, 2010: 394). Sinonim adalah kata-kata yang mengandung makna pusat yang sama tetapi berbeda dalam nilai rasa. Atau secara singkat sinonim adalah kata-kata yang mempunyai denotasi yang sama tetapi berbeda dalam konotasi. Sinonim tidak hanya menolong kita untuk menyampaikan gagasan-gagasan umum tetapi juga membantu kita untuk membuat perbedaan-perbedaan yang tajam dan tepat antara makna kata-kata itu (Tarigan, 1993: 17).
.
2.    Kemunculan Sinonimi

Bagaimanapun juga kehadiran sinonimi perlu diakui dalam analisis semantik. Ini berarti tidak terdapat dua kata yang maknanya memang merujuk kepada ide atau referen yang sama persis. Akan tetapi dalam pemakaian bahasa sering dijumpai pula keinginan pemakai bahasa untuk mengganti satu kata yang lain yang maknanya kurang lebih mirip sama sebagai variasi atau juga sebagai ciri kebebasan berbahasa. Pertanyaan yang masih perlu dijawab ialah mengapa muncul sinonimi?

1.    Sinonimi Muncul antara Kata Asli dan Kata Serapan
Salah satu ciri serapan ialah serapan kata yang bermakna sama dengan kata bahasa penyerap.  Bahasa Indonesia mengalami proses serapan dengan ciri sinonimi. Misalnya kata serapan aktifitas  bersinonim dengan kegiatan, kata serapan kompetensi bersinonim dengan kemampuan. Kata-kata serapan tersebut dipakai secara bergantian dengan kata-kata asli tanpa membawa perbedaan makna bergantung kepada selera dan pengetahuan pemakai bahasa. Secara semantik kata-kata tersebut tidak berbeda.

2.    Sinonimi Muncul antara Bahasa Umum dan Dialek
Serapan intrabahasa terjadi antara dialek dan bahasa-bahasa umum dan bahasa standar. Bahasa Indonesia yang mengenal beberapa dialek mengalami penyerapan makna sinonimi intrabahasa. Misalnya, sinonimi antara cabe dan lombok, kayak dan seperti.

3.    Sinonimi Muncul untuk Membedakan Kata Umum dan Kata Ilmiah
Pemunculan sinonim antara kata umum dan istilah ditunjukan untuk memberikan pembatasan yang jelas atau definisi terhadap sebuah kata. Kata-kata dalam ilmu teknik/teknologi dan ilmu kedokteran pada umumnya menghadirkan sinonimi antara kata umum dan kata istilah. Kata umum contoh disinonimkan secara istilah sampel.

4.    Sinonim Muncul antara Bahasa Kekanak-kanakan dan Bahasa Orang Dewasa
Untuk memudahkan pemahaman munculah penyinoniman bahasa anak-anak dengan bahasa orang dewasa. Salah satu ciri bahasa anak-anak ialah pengulangan suku kata. Misalnya papa (ayah), mama (ibu), mamam (makan), mimi (minum), bobo (tidur), popo (cium).

5.    Sinonimi Muncul untuk Kerahasiaan
Untuk kerahasiaan dapat saja dimunculkan kata-kata rahasia untuk instansi pengamanan tertentu (intel), dalam profesi, antargeng, dan antar remaja. Misalnya kata bokap, nyokap,  bersinonim dengan kata ayah, ibu.

6.    Sinonim Muncul karena Kolokasi
Sinonimi muncul karena kolokasi yang terbatas. Suara yang dikeluarkan oleh binatang dikatakan dengan kata yang berbeda untuk merujuk “bersuara”. Misalnya kuda meringkik, kucing mengeong, anjing menggonggong, kambing mengembik, dll.  Kata indah dan cantik  dalam bahasa Indonesia bersinonim, tetapi dibatasi kolokasinya. Kata indah sudah dihubungkan dengan keadaan alam. Sedangkan kata cantik  dihubungkan dengan manusia perempuan (Parera, 2004: 66-67).

Menurut Aminuddin, (2008: 116-117) ada lima cara yang dapat digunakan dalam menentukan kemungkinan adanya sinonim. Kelima cara yang dimaksud adalah:

1.    Seperangkat sinonim itu mungkin saja merupakan kata-kata yang digunakan dalam dialek yang berbeda-beda. Kata pena dan rika dalam bahasa Jawa dialek Surabaya memiliki terjemahan kedalam bahasa Indonesia yang persis sama dengan koen atau kowe dalam bahasa Jawa dialek Malang. Akan tetapi, apabila dalam setiap dialek masing-masing kata tersebut memiliki makna dasar berbeda-beda, kata-kata tersebut tidak dapat ditentukan sebagai sinonim.

2.    Suatu kata yang semula dianggap memiliki kemiripan atau kesamaan makna, setelah berada dalam berbagai pemakaian ada kemungkinan membuahkan makna yang berbeda-beda. Kata bisa dan dapat, misalnya, meskipun secara leksikal merupakan sinonim, dalam konteks pemakaian Saya nanti bisa datang dan Saya nanti dapat datang tetap pula dapat dianggap sinonom. Sewaktu berada dalam konteks pemakaian Bisa ular dapat berbahaya, kedua kata tersebut tidak dapat lagi disebut sinonim.

3.    Suatu kata, apabila ditinjau berdasarkan makna kognitif, makna emotif, maupun makna evaluatif, mungkin saja akhirnya menunjukkan adanya karakteristik tersendiri meskipun dalam pemakaian sehari-hari awalnya dianggap memiliki kesinoniman dengan kata lainnya. Bentuk demikian misalnya dapat ditemukan dalam pasangan kata ilmu dan pengetahuan, mengamati, dan meneliti serta antara mengusap dengan membelai. Apabila hal itu terjadi, maka kata-kata yang awalnya dianggap sinonim itu harus dianggap sebagai kata yang berdiri sendiri-sendiri.

4.    Suatu kata yang semula memiliki kolokasi sangat ketat, misalnya antara kopi dengan minumankuncup dengan kembang, maupun pohon dengan batang, seringkali dipakai secara tumpang tindih karena masing-masingnya dianggap memiliki kesinoniman. Hal itu tentu saja tidak benar karena masing-masing kata tersebut jelas masih memiliki ciri makna sendiri-sendiri. Sebab itu, pemakaian yang tumpang tindih dapat mengakibatkan adanya salah pengertian.

5.    Akibat kekurangtahuan terhadap nilai makna suatu kata maupun kelompok kata, seringkali bentuk kebahasaan yang berbeda-beda begitu saja dianggap sinonim, misalnya antara bentuk kembali ke pangkuan ilahi dengan meninggalkan dunia kehidupan, antara merencanakan dengan menginginkan, antara gambaran dengan bayangan.

Cara lain untuk membedakan kata-kata yang bersinonim adalah dengan menatanya dalam sebuah jajaran, di mana makna dan overtone pembedaannya akan tampak dengan kontras. Misalnya deretan kata yang berarti “keluar”, yakni: terbit, timbul, muncul, menyembul, keluar, nongol, lahir (Ullman, 2009: 179).

3.    Faktor Penyebab Ketidakmungkinan menukar Sebuah Kata yang Bersinonim

Kesinoniman makna atau kesinoniman simetris memang tidak ada dalam pembendaharaan kata bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata-kata yang dapat dipertukarkan begitu saja pun jarang ada. Pada suatu tempat kita mungkin dapat menukar kata mati dengan kata meninggal; tetapi ditempat lain tidak dapat.

Ketidakmungkinan kita untuk menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim adalah banyak sebabnya. Antara lain, karena:

a.    Faktor waktu
Misalnya hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, keduanya tidak mudah dipertukarkan karena kata hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, klasik, atau arkais. Sedangkan kata komandan hanya cocok untuk situasi masa kini (modern).

b.    Faktor tempat atau daerah
Misalnya kata saya dan beta adalah bersinonim. Tetapi kata beta hanya cocok untuk digunakan dalam konteks pemakaian bahasa Indonesia Timur (Maluku); sedangkan kata saya dapat digunakan secara umum dimana saja.
.
c.    Faktor sosial
Misalnya kata aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim; tetapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya dan tidak dapat digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi.

d.    Faktor bidang kegiatan
Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersinonim. Namun, kata tasawuf hanya lazim dalam agama islam; kata kebatinan untuk yang bukan islam; dan kata mistik untuk semua agama.

e.    Faktor nuansa makna
Misalnya kata melihat, melirik, melotot, meninjau, dan mengintip adalah kata yang bersinonim. Kata melihat memang bisa digunakan secara umum; tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata; kata melotot hanya digunakan untuk melihat dengan mata terbuka lebar; kata meninjau hanya digunakan untuk melihat dari tempat jauh atau tempat tinggi; dan kata mengintip hanya cocok digunakan untuk melihat dari celah yang sempit (Chaer, 2009: 86-87).

4.    Perbedaan antara Makna Sinonimi

Ada beberapa perbedaan yang dapat diidentifikasi antara kata-kata yang bersinonimi:

-       Perbedaan Makna Sinonimi Diakibatkan oleh Perbedaan Implikasi (Webster, dalam buku Parera, 2004: 68)
Perbedaan makna sinonimi dapat diakibatkan oleh perbedaan suatu implikasi  dapat dilihat dari kata remeh dan  sepele yang merujuk kepada “sesuatu yang tidak penting”. Namun kedua kata tersebut memiliki perbedaan yaitu kata sepele yang berimplikasi positif, sedangkan makna remeh yang berimplikasi negatif.

-       Perbedaan Makna Sinonimi Diakibatkan oleh Perbedaan Aplikasi (Webster, dalam buku Parera, 2004: 68)
Perbedaan makna tersebut dapat dilihat dari perbedaan aplikasi antara kata nikmat, enak dan lezat. Kata nikmat digunakan pada makanan, minuman, kehidupan, atau semua yang dapat memberikan kesenangan. Sedangkan kata enak dan lezat  hanya dikenakan pada makanan dan minuman.

-       Perbedaan antara Makna Sinonimi Didasarkan pada Kelebihluasan Cakupan Makna yang Satu dari yang Lain (Webster, dalam buku Parera, 2004: 69)
Perbedaan makna tersebut dapat dilihat pada kata mengerti dan memahami. Perbedaan ini dapat diuji bahwa seseorang dapat mengerti perkataan orang, tetapi belum tentu dia dapat memahami perkataan orang tersebut.

-       Perbedaan antara Makna Sinonimi Didasarkan pada Asosiasi yang Bersifat Konotasi (Webster, dalam buku Parera, 2004: 69)
Ciri perbedaan antara dua atau lebih kata yang bersinonimi yang didasarkan pada asosiasi konotatif terletak pada ciri konotasi positif dan negatif. Makna kata rekam, merekam, rekaman, dan sadap, menyadap, sadapan (pengambilan suara atau bunyi dengan bantuan pita dan alat elektronik) terletak pada konotasi positif dan negatif. Rekam, merekam, rekaman bersifat positif dan lebih netral, sedangkan sadap, menyadap, sadapan cenderung bersifat negatif.

-       Perbedaan antara Sinonimi Berdasarkan Sudut Pandang (Webster, dalam buku Parera, 2004: 69)
Perbedaan antara makna sinonimi sudut dan segi didasarkan pada sudut pandang, Bentuk sudut dan segi yang dirujuk sama, tetapi bentuk sudut dilihat dari dalam dan segi dilihat dari luar. Penyebutan segi didasarkan pada pandangan dari luar, sedangkan sudut dipandang dari dalam. Misalnya sebuah segi tiga  mempunyai tiga sudut.

Di dalam beberapa buku pelajaran bahasa sering dikatakan bahwa sinonim adalah persamaan kata atau kata-kata yang sama maknanya. Pernyataan ini jelas kurang tepat sebab selain yang sama bukan maknanya, yang bersinonimpun bukan hanya kata dengan kata, tetapi juga banyak terjadi antara satuan-satuan bahasa lainnya. Perhatikan contoh di bawah ini!

a)    Sinonim antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat), seperti antara dia dengannya, antara saya dengan ku dalam kalimat

1.    Minta bantuan dia
Minta bantuannya
2.    Bukan teman saya
Bukan temanku

b)    Sinonim antara kata dengan kata, seperti antara mati dengan meninggal; antara buruk dengan jelek; antara bunga dengan puspa; menyenangkan dengan memuaskan, dan sebagainya.

c)    Sinonim antara kata dengan frase atau sebaliknya. Misalnya antara meninggal dengan tutup usia; antara hamil dengan duduk perut; antara pencuri dengan tamu yang tidak diundang; antara tidak boleh tidak dengan harus.

d)    Sinonim antara frase dengan frase. Misalnya, antara ayah ibu dengan orang tua; antara meninggal dunia dengan berpulang ke rahmatullah; antara mobil baru dengan mobil yang baru. Malah juga antara baju hangat dengan baju dingin.

e)    Sinonim antara kalimat dengan kalimat. Seperti adik menendang bola dengan Bola ditendang adik. Kedua kalimat ini pun dianggap bersinonim, meskipun yang pertama kalimat aktif dan yang kedua kalimat pasif (Chaer, 2009: 87-88).

Akhirnya, mengenai sinonim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, tidak semua kata dalam bahasa Indonesia mempunyai sinonim. Misalnya kata beras, salju, batu, dan kuning, tidak mempunyai sinonim. Kedua, ada kata-kata yang bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak dalam bentuk jadian. Misalnya kata benar dengan kata betul, tetapi kata kebenaran tidak bersinonim dengan kata kebetulan. Ketiga, ada kata-kata yang tidak mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memiliki sinonim pada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur ada sinonimnya, yaitu mengeringkan; dan berjemur bersinonim dengan panas. Keempat, ada kata-kata yang dalam arti “sebenarnya” tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam, arti “kiasan” justu mempunyai sinonim. Misalnya kata hitam dalam makna “sebenarnya” tidak ada sinonimnya, tapi dalam arti “kiasan” ada sinonimnya, yaitu gelap, mesum, buruk, jahat, dan tidak menentu (Chaer, 2009: 88).

KESIMPULAN

Bahasa merupakan sistem komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa senantiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan pelbagai pendekatan untuk mengkajinya. Antara lain pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Semantik merupakan salah satu bidang linguistik yang mempelajari tentang makna.

Bahasa merupakan sarana perpikiran manusia secara empiris. Kaitan antara perpikiran dan perbahasaan atau berbahasa dan berpikir sangat erat atau sama sekali tidak dapat dilepaskan (Parera,2004: 60-61).

Dalam suatu bahasa, makna kata saling berhubungan. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainya dengan kata atau satuan bahasa lainya lagi (Chaer, 2009: 83).

 Sering dikatakan bahwa kata-kata yang sinonim memiliki makna yang “sama”, dengan hanya bentuk-bentuk yang berbeda (Verhaar, 2010: 394). Munculnya sinonimi disebabkan oleh beberapa hal yaitu sinonimi muncul antara kata asli dan kata serapan,sinonimi muncul antara bahasa umum dan dialek,sinonimi muncul untuk membedakan kata umum dan kata ilmiah,sinonim muncul antara bahasa kekanak-kanakan dan bahasa orang dewasa, sinonimi muncul untuk kerahasiaan, sinonim muncul karena kolokasi (Parera,2004: 66-67).

Menurut Aminuddin, (2008: 116-117) ada lima cara yang dapat digunakan dalam menentukan kemungkinan adanya sinonim. Kelima cara yang dimaksud adalah: 1. Seperangkat sinonim itu mungkin saja merupakan kata-kata yang digunakan dalam dialek yang berbeda-beda, 2. Suatu kata yang semula dianggap memiliki kemiripan atau kesamaan makna, setelah berada dalam berbagai pemakaian ada kemungkinan membuahkan makna yang berbeda-beda, 3. Suatu kata, apabila ditinjau berdasarkan makna kognitif, makna emotif, maupun makna evaluatif, mungkin aja akhirnya menunjukkan adaya karakteristik tersendiri meskipun dalam pemakaian sehari-hari semula dianggap memiliki kesinoniman dengan kata lainnya, 4. Suatu kata yang semula memiliki kolokasi sangat ketat, misalnya antara kopi dengan minumankuncup dengan kembang, maupun pohon dengan batang, seringkali dipakai secara tumpang tindih karena masing-masingya dianggap memiliki kesinoniman, 5. Akibat kekurangtahuan terhadap nilai makna suatu kata maupun kelompok kata, seringkali bentuk kebahasaan yang berbeda-beda begitu saja dianggap sinonim.

Ketidakmungkinan kita untuk menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim adalah banyak sebabnya. Antara lain, karena faktor waktu,faktor tempat atau daerah, faktor sosial, faktor bidang kegiatan, faktor nuansa makna (Chaer, 2009: 86-87). Ada beberapa perbedaan yang dapat diidentifikasi antara kata-kata yang bersinonimi yaitu Perbedaan Makna Sinonimi Diakibatkan oleh Perbedaan Implikasi, Perbedaan Makna Sinonimi Diakibatkan oleh Perbedaan Aplikasi, Perbedaan antara Makna Sinonimi Didasarkan pada Kelebihluasan Cakupan Makna yang Satu dari yang Lain, Perbedaan antara Makna Sinonimi Didasarkan pada Asosiasi yang Bersifat Konotasi, dan Perbedaan antara Sinonimi Berdasarkan Sudut Pandang (Webster, dalam buku Parera, 2004 :68-69).


DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 1985. Semantik. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Parera, J.D. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga

Pateda, Mansoer. 2010.Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta

Tarigan, Henri Guntur. 1993. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa

Ullman, Stephen. 2009. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Polisemi

|0 komentar


Polisemi adalah bentuk bahasa (kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Polisemi terjadi akibat pergeseran makna, sehingga mempunyai hubungan antara semua makna itu. (sumber: situs web guru berbahasa)
Polisemi adalah kata atau frasa yang memiliki makna atau arti yang lebih dari satu. Polisemi merupakan salah satu kekayaan dari suatu bahasa karena satu kata bisa memiliki berbagai macam makna. Makna dari polisemi sendiri dapat ditentukan dengan melihat kalimatnya secara keseluruhan. (sumber: situs web bimbel bahasa indonesia)
Contoh:
1.      Jatuh
a.       Saat sedang mengendarai sepeda motor, dia tiba-tiba terjatuh.
(jatuh berarti terlepas)
b.      Harga emas sangat jatuh pada tahun ini.
(jatuh berarti turun atau merosot)
c.       Setelah pulang dari Bali, dia jatuh sakit.
(jatuh berarti menderita)

2.      Akar
a.       Akar dari tanaman kumis kucing dapat dimanfaatkan sebagai obat.
(akar berarti bagian dari tanaman)
b.      Kita harus mencari akar permasalahan terlebih dahulu supaya masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
(akar berarti penyebab)
c.       Akar-akar dari pohon beringin tersebut hampir saja membuat dia terjatuh.
(akar berarti bagian yang menopang tumbuhan)


3.      Raja
a.       Raja dari kerajaan tersebut sedang mengadakan sayembara untuk mencari seorang istri.
( raja berarti pemimpin atau penguasa wilayah tersebut)
b.      Raja hutan itu dengan cepat memburu mangsanya.
(raja berarti penguasa hutan)
c.       Rhoma Irama disebut sebagai raja dangdut oleh semua orang.
(raja berarti senior dari semua kalangan penyanyi)

4.      Buah
a.       Saya sangat menyukai buah mangga karena rasanya manis.
(buah berarti buah-buahan)
b.      Setelah pulang dari negara Jepang, dia membawa buah tangan yang sangat banyak.
(buah berarti oleh-oleh)
c.       Zizy memiliki seorang buah hati yang sangat cantik.
(buah berarti anak)

5.      Gugur
a.       Sangat banyak pahlawan yang gugur di medan perang.
(gugur berarti meninggal)
b.      Erva sangat menyukai musim gugur di negara Cina.
(gugur berarti pergantian musim panas ke musim dingin)
c.       Akibat terjatuh, janin yang sedang dikandungnya gugur.
(gugur berarti lahir sebelum waktunya)

6.      Sakit
a.       Didi dibawa ke dokter karena telinganya sakit.
(sakit berarti sakit)
b.      Dia sakit hati karena perkataan temannya.
(sakit berarti benci atau perasaan terluka)
c.       Akibat ditinggal istri tercinta Toni menjadi sakit jiwa.
(sakit berarti gila)

7.      Naik
a.       Dia selalu ke sekolah naik kereta api.
(naik berarti masuk ke kereta api)
b.      Karena lift sedang rusak, maka dia ke lantai atas harus naik tangga.
(naik berarti bergerak ke atas atau ke tempat yang lebih tinggi)
c.       Dean adalah seorang penyanyi yang sedang naik daun.
(naik berarti terkenal)

8.      Bintang
a.       Dia hanya mengetahui lima rasi bintang.
(bintang berarti zodiak)
b.      Malam ini bintang-bintang di langit sangat indah.
(bintang berarti bintang di langit yang mempunyai lima sisi)
c.       Bintang sangat menyukai pelajaran olahraga.
(bintang berarti nama)

9.      Bulan
a.       Pada bulan Desember Nia akan melaksanakan wisuda.
(bulan berarti bulan pada kalender)
b.      Pada malam hari Mayang sangat suka melihat bulan.
(bulan berarti bulan di langit yang berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran)
c.       Setiap sedang datang bulan Mia sangat suka marah-marah.
(bulan berarti haid)

10.   Anak
a.       Dia baru saja terjatuh dari anak tangga.
(anak berarti tangga)
b.      Di kantor, kakak saya memiliki banyak anak buah.
(anak berarti seseorang yang berada di bawah seorang pemimpin)
c.       Sari merupakan salah satu anak yang berprestasi di sekolah.

(anak berarti anak)

Manfaat Seseorang Mempelajari Semantik

|2 komentar


            Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, bahwa semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna dalam sebuah bahasa, bila kita mempelajari sebuah bahasa maka kita harus mengetahui makna apa yang terkandung dalam bahasa tersebut, agar kita paham dan tidak salah tafsir makna dalam sebuah bahasa tersebut.
            Mempelajari semantik sangat berguna untuk semua masyarakat, karena masyarakat dapat mengetahui makna yang tepat dalam sebuah bahasa, baik dia mendengar bahasa tersebut, melihat dalam sebuah teks, mengobrol dengan orang lain, dsb.
            Dalam bidang pendidikan sangat penting dalam mempelajari semantik. Seorang guru, terutama seorang guru bahasa harus mempelajari semantik, yang bertujuan untuk menjelaskan kepada peserta didik makna yang tepat dalam sebuah bahasa. Agar peserta didik dapat mengetahui makna yang tepat dalam sebuah bahasa. Sebetulnya tidak harus seorang guru bahasa saja yang harus mempelajari semantik, guru-guru bidang lainnya juga dapat mempelajari semantik, yang bertujuan untuk mengetahui makna yang tepat dalam sebuah bahasa. Agar guru tersebut tidak salah dan kebingungan dalam menyampaikan penjelasan, dan peserta didik tersebut lebih mudah menyerap informasi. Seorang peserta didik wajib mempelajari semantik, agar bahasa yang dia ucapkan tidak memiliki makna yang salah yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Dengan mempelajari semantik, peserta didik juga dapat dengan mudah menganalisis bahasa (baik bahasa yang telah dipelajarinya, bahasa yang belum dipelajarinya, maupun bahasa yang akan dipelajarinya) juga lebih mudah dalam mempelajari makna dalam bahasa.
            Dalam bidang media massa. Untuk seorang wartawan, reporter, dsb sangat penting dalam mempelajari semantik bertujuan agar lebih memudahkan mereka dalam memilah dan mengolah kata yang tepat dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Media massa adalah sebuah sarana yang banyak digunakan masyarakat umum, apabila media massa tersebut salah menggunakan bahasa yang dimaksud maka setiap masyarakat memiliki makna yang berbeda dari informasi yang seharusnya akurat. Fungsi mempelajari semantik dalam bidang ini untuk mengetahui kata mana yang dapat digunakan dan kata mana yang tidak dapat digunakan dalam sebuah informasi untuk masyarakat umum.
            Dalam keluarga. Didalam keluargapun banyak yang salah arti perkataan yang dimaksud, misalnya seorang anak menanyakan kepada ibunya apakah Beliau masih memilki simpanan atau tidak, lalu si ibu menjawab masih. Si ayah yang mendengar akan salah paham dengan percakapan mereka berdua. Mempelajari semantik didalam keluargapun sangat penting, agar seseorang yang mendengarnya tidak salah paham makna yang dimaksud. Pada percakapan diatas bisa saja si anak menanyakan masih ada simpanan makanan ringan, simpanan uang belanja, ataupun simpanan baju bekas, dsb. Bukan yang dipikirkan oleh si ayah bahwa istrinya memiliki simpanan laki-laki lain.
            Dalam politik. Seorang politikus seharusnya sudah dapat menguasai ilmu semantik ini, karena dia adalah seorang public figure yang berhadapan dengan masyarakat umum. Bila politikus tersebut tidak menguasai ilmu semantik apabila dia sedang memberikan sebuah informasi dan informasi tersebut mengandung makna yang tidak seharusnya maka banyak masyarakat yang salah tafsir dengan informasi yang dia sampaikan. Seorang politikus seharusnya mempunyai tutur kata yang bijaksana dan menguasai ilmu semantik, karena dia adalah seseorang yang diperhatikan banyak masyarakat.
            Untuk masyarakat awam. Tidak hanya yang disebutkan diatas saja yang harus meempelajari semantik. Untuk masyarakat awam juga sangat penting mempelajari semantik, karena untuk mengetahui makna dalam sebuah bahasa yang diucapkan agar mereka dapat paham dengan apa yang diucapkan oleh orang lain. Di Indonesia sendiri banyak makna khiasan yang bermakna negatif yang orang lain sering ucapkan, misalnya “panjang tangan” : maling, “muka dua” : di depan baik di belakang jahat, “penjilat” : sering berkata-kata yang manis pada orang lain, “caper” : tukang cari perhatian pada orang lain, dsb. Bila kita tidak mengetahui makna negatif yang terkandung dalam kata/bahasa tersebut, maka jika kita disebut dengan kata/bahasa tersebut kita hanya akan diam saja. Jadi, sebagai masyarakat harus dapat mengetahui makna yang tepat yang disampaikan oleh orang lain.
Bagaimananapun setiap orang harus mempelajari semantik meskipun hanya dasar. Karena setiap bahasa mempunyai makna yang sangat berbeda-beda, dan kita harus dapat membedakan setiap makna tersebut. Tidak hanya mengetahui makna bahasa dari negara sendiri saja, setidaknya kita harus mengetahui makna dari negara lain meskipun hanya dasar, karena setiap bahasa dari berbagai negara akan mempunyai makna yang berbeda, alangkah lebih baik kita dapat membedakan makna yang dimaksud dibandingkan kita salah tafsir mengenai makna tersebut.

           
Menurut saya mempelajari semantik tergantung dari tujuan seseorang, karena setiap orang mempunyai bidang pekerjaan yang berbeda-beda. Misalnya guru bahasa, sangat penting untuk seorang guru bahasa mempelajari semantik, karena ia dapat menjelaskan kepada peserta didik, bentuk mana yang secara semantik benar dan bentuk mana yang secara semantik salah. Bagaimana cara memilih sebuah kata yang digunakan yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi semantik. Guru bahasa juga dapat menjelaskan kata mana yang tergolong homonim, dan makna yang memiliki makna ganda.
Lalu untuk seorang wartawan, seorang reporter, seseorang yang mendalami dunia pemberitaan ataupun persurat kabaran, tujuan mempelajari semantik adalah memperoleh manfaat praktis untuk memudahkannya dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum. Walaupun dapat menggunakan kamus, tetapi dengan mempelajari semantik mendapatkan wawasan yang lebih luas untuk menemukan kata dengan makna yang tepat sehingga informasi yang disampaikan kepada masyarakat lebih mudah untuk dipahami.
Untuk seorang mahasiswa jurusan bahasa, tujuan mempelajari semantik adalah lebih memudahkan menganalisis bahasa (baik bahasa yang telah dipelajarinya, bahasa yang belum dipelajarinya, maupun bahasa yang akan dipelajarinya), lebih mudah dalam mempelajari makna dalam bahasa, lalu bila mahasiswa ingin menjadi seorang pengajar, dapat memudahkan ia untuk menjelaskan makna kata tertentu kepada calon peserta didiknya.
Untuk masyarakat awam, tujuan mempelajari semantik adalah untuk memahami dunia di sekelilingnya yang penuh dengan informasi dan lalu lintas kebahasaan. Semua informasi yang ada di sekelilingnya maupun yang harus mereka serap. Sebagai masyarakat mereka tidak mungkin dapat hidup tanpa memahami alam sekeliling mereka yang berlangsung melalui bahasa.
Bagaimananapun setiap orang harus mempelajari semantik meskipun hanya dasar, baik itu yang memiliki posisi lebih tinggi dari orang lain ataupun posisi menengah, karena setiap bahasa mempunyai makna yang sangat berbeda-beda, dan kita harus dapat membedakan setiap makna tersebut, karena setiap bahasa dari berbagai negara akan mempunyai makna yang berbeda, alangkah lebih baik kita dapat membedakan makna yang dimaksud dibandingkan kita salah tafsir makna tersebut.

Perubahan Makna

|0 komentar


Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin lama semakin berkembang pesat, makan sebuah kata dapat mengalami sebuah perubahan maupun pergeseran makna. Ada berbagai macam faktor penyebab perubahan makna, salah satunya adalah karena perkembangan  sosial dan budaya.
Kenapa perubahan makna berdasarkan perkembangan sosial dan budaya termasuk kedalam salah satu penyebab perubahan makna? Karena bentuk katanya tetap sama tetapi konsep makna yang dikandungnya telah berbeda. Berikut ini adalah penjelasannya:
1.      Saudara
Kata saudara dalam bahasa sansekerta bermakna seperut atau satu kandungan. Tetapi sekarang kata saudara digunakan untuk menyebut atau menyapa siapapun yang dianggap sederajat dan memiliki kedudukan status sosial yang sama.

2.      Sarjana
Kata sarjana dalam bahasa jawa kuno berarti orang yang pandai dan cendikiawan. Tetapi sekarang kata sarjana memiliki makna sebagai orang yang lulus dari perguruan tinggi.

3.      Kakak
Kata kakak dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti saudara tua, panggilan kepada orang (baik laki-laki maupun perempuan) yang dianggap lebih tua. Tetapi sekarang kata kakak banyak digunakan oleh para pedagang untuk memanggil pelanggan yang lebih muda maupun seumuran dengan sebutan tersebut.

4.      Gerombolan
Dahulu kata gerombolan bermakna orang yang berkumpul atau kerumunan orang. Tetapi sekarang kata gerombolan bermakna pemberontak atau pengacau.

5.      Saya dan Aku

Meskipun kata saya dan aku adalah dua buah kata yang bersinonimi, tetapi kata saya digunakan untuk orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan status sosial yang tinggi tidak dapat digunakan kepada teman sebaya. Begitupula dengan kata aku, digunakan untuk teman sebaya dan tidak digunakan kepada orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan status sosial yang tinggi.